Senin, 10 Agustus 2009

mengukir prestasi

Subhanallah, siswa-siswiku di SDIT NURUL ISLAM KREMBUNG yang cerdas telah mengukir prestasi pada bulan agustus ini. Meraih juara I Lomba cerdas cermat pendidikan agama islam, juara II lomba baca puisi putra dan putri. Meski lokasi sekolah berada di ujung barat sidoarjo, kami tetap mengukir prestasi dan terus mewujudkan citra sebagai sekolahmya para juara. anak-anak yang cerdas harus terus ditumbuhkembangkan sesuai dengan segala potensi yang telah diberikan. anak-anak inilah yang di masa mendatang menjadi pemimpin bangsa

Kamis, 30 Juli 2009

belajar dari kehidupan

meniti jalan kepemimpinan
membuatku kadang terjungkal
terjerembab
meski terkadang hati terasa sakit
tetap berjalan menyongsong esok
karna semua itu amanah
luka hati terhapus
dengan keyakinan
yang terbaik telah dirajutkan oleh Sang Khalik
bingkai kedewasaan telah dipersiapkan
jangan pernah lengah
jangan pernah takut
meski harus tersungkur

Senin, 07 Juli 2008

cerita lagi

Hidup memang bukanlah milik kita, manusia hanya merencanakan dan menjalani saja. Penentu semua kehidupan hanyalah ALLOH SWT. Lika-liku hidup tiada yang tahu, hanya melaksanakan dengan sungguh-sungguh, lakasanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.Kala ujian yang tiada terduga datang secara tiba-tiba, hanya keimanan kepada Yang Esa yang menguatkan kita. tiada hujan tiada badai tiba-tiba petir datang menghadang,orang-orang terdekat meninggalkan kita tanpa pesan di tengah gelombang kehidupan yang seharusnya dijalani bersama-sama, saling terpadu, saling menguatkan. Ada rasa hampa, rasa kehilangan, but......the life must go on, kaki harus tetap melangkah songsong masa depan. Rasa kehilangan ada mungkin karena kita terlalu banyak berharap pada manusia.meskipun masih merasakan adanya perih, langkah tidak boleh berhenti.Penuh sikap optimis kusambut terbitnya mentari esok hari meski tanpa orang-orang yang dahulu dekat denganku.
kukembalikan lagi energi positif dalam diriku, kudekatkan lagi taqarrub ku pada ilahi, kubangun kembali cintaku kepada ilahi.Ya Alloh terima kasih kuhaturkan atas pelajaran hidup di penghujung tahun ajaran baru ini. Semoga aku mampu memberikan yang terbaik. Amiiin

Minggu, 15 Juni 2008

Kembali

Aku harus kembali
Kembali ke rumah Alloh
Kembali dalam lindungan dan kasih sayang Alloh
Meramaikan bumi dan langit dengan sujud demi sujud
Ruku' demi ruku'menghiasi dengan lantunan dzikir
dan amal-amal shalih yang semuanya
membuka pintu-pintu langit

Aku harus kembali
Kembali seperti salafus shalih
yang memakmurkan bumi dengan
sujud dan ruku'nya
Yang memperindah alam melalui
untaian dzikir-dzikirnya
Peka terhadap gerakan alam
Ditangisi kepergiannya oleh alam

Aku tidak ingin menjadi orang dalam Q.Al Ankabut: 40
"Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosanya.
Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil.
Dan ada diantara mereka ada yang timpa suara keras yang mengguntur.
Dan diantara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi dan diantara mereka ada yang kami tenggelamkan.
Dan Alloh sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri."

Aku harus segera kembali
sebelum titik akhirku di dunia tiba

Kala

Kala pesawatku
tak mampu terbang
Menukik tajam
Hilang terhempas pusaran air

Kala kapal modernku
tak sekuat kapal nabi nuh
Keropos oleh waktu
Hingga air laut bebas menyelinap di antara lubang itu
Tenggelam satu-satunya pilihan

Kala relku tak lagi kuat
Hingga keretaku tak mampu
berjalan kokoh diatasnya
Roda-roda besi tak bersahabat lagi
dengan rel-rel
Mampu gulingkan gerbong hidup

Kala hutanku menguning
Bara api menari gemulai
Di atas sisa-sisa pohon
Meranggas hijaunya zamrud
hanyalah sejarah silam

Kala bumiku semburkan amarah
Terluka karna tangan keserakahan
Hitamnya lumpur tak terbendung
Damainya desa tinggal kenangan

Kala putihnya beras laksana mutiara
tak terjangkau lagi
Asap dapur pun menghilang

Kala roda hidup mulai menghimpit
Tiada tempat berteduh selain hati nan beriman
yang selalu merindu

Hanya kepada ALLOH Yang Maha Kuasa atas segalanya
Tempat gantungkan segala asa
harapan dan cita

Tanpa Harap

Kemana menabur harap
Kala bumiku tak lagi bersahabat
Hanya tangan-tangan hitam pekat
terus bergerak
laksana pasukan seribu negeri
Memacu pedang hitam
hancurkan rumah,sekolah, dan tempatku labuhkan harap

Kemana menabur harap
Kala mawar merahku
kini telah mengering kerontang
Kala melatiku telah menghitam

Kemana menabur harap
Kala diriku hanya berada
dalam lengkung kesunyian
yang terus menghitam
Bajuku pun mulai lusuh
Percikan hitam itu terus mengejarku
Tinggalkan noda tak terperi
Tenggelamkan segala asaku
Lenyapkan batu bata yang kutata puluhan tahun diantara deras keringatku

Kini remuk redam rasa dan tulangku
Hanya mampu terduduk
Di pojok kios tanpa harapan
Tanpa mimpi baru
Tanpa senyuman
Hanya beku
sebeku es

Diriku, diam
lelah
benci
dendam
Pada hitam yang telah dibuat oleh pengeruk harta

Kemana

Kemana menabur benih
Jika sawah kami tak berbatas lagi
Hanya hamparan hitam pekat terus bergerak
Pancarkan hawa panas hingga menguliti tubuh kami yang kelaparan
dan kehilangan tempat untuk taburkan harapan akan mengepul lagi dapur kami
dengan padi dari sawah ini

Kemana kami berteduh
Ketika rintik-rintik hujan mulai menghujam ke bawah
menjadi aliran air dahsyat
dengan petir menggelegar
Jika batu-batu yang telah kami susun
penuh cucuran keringat
menjadi istana kami

Tempat merajut selaksa mimpi
Kini telah tertutup hitam
yang mencekam dan sebarkan bau
menusuk hidung kami
Mengoyak raga kami
Goreskan luka di jiwa kami
Robohkan asa kami

Kemana kami berlindung
Saat sinar matahari mengganas
mencabik-cabik bumi
Baurkan hawa panas
ke seluruh makhluk
Panaskan kulit kami
merasuk ke tulang
Hingga berikan derita di jiwa kami
yang kini tak lagi mampu
mencari tempat berlindung

Karna istana kami
yang masih baru
Bahkan hutang untuk bangun istana itu masih ada di pundak kami
kini tak lagi berbentuk

Bahkan kami pun tak tahu
Di mana letak istana baru kami
Hanya hitamnya lumpur panas
yang semakin mencekam
Memenjara jiwa kami
Memutus asa kami

Hingga kami hanya mampu tertegun
diam laksana patung
Hanya saksikan lompor itu melahap ganas segala yang telah kami bangun
puluhan tahun

penuh cucuran keringat dan derita kami
hitam yang tak bersahabat bagi kami saat ini
akhirnya merenda kami dalam kehitaman entah sampai kapan

Theme designed by